"Sepuluh perintah yang selalu dilestarikan dan dinarasikan secara berkelanjutan ini telah redup terdengar, bangsa ini terjebak dengan perilaku dusta dan acuh dengan nilai-nilai yamg menjaga keteguhan pondasi kaidah-kaidah kemanusiaan, kemartabatan dan kelayakan sebagai bangsa yang beradab."
KORUPSI............
PROSTITUSI........
TENDENSI ATAS JATI DIRI
KRIMINALISASI IDEOLOGI SENDIRI
PRIBUMI MENJADI ANAK TIRI
Para petani terkesima....................
Para veteran kemerdekaan berlinangan air mata,................
Para pahlawan mengutuk.................
Para pedagang kaki lima menggelengkan kepala.............
Para blogger bergetar jemarinya.........
Para binatang ternak, melata dan lalat bersama-sama
MENGUTUK.....!!!!!!!
Perilaku para pendosa korupsi harta negeri ini......
Pembiaran dan legitimasi aneka hidangan prostitusi..........
Aneka upaya kriminalisasi terhadap
ideologi anak negeri............
Aneka kesenjangan dan diskriminasi keadilan dan aneka macam previlege yang seharusnya sama rata atas azas keadilan yang menyeluruh bagi anak bangsa..
WAHAI ANAK NEGERI....!!!!!!
Saudaraku yang tersisih di jembatan layang...!!!!
Keponkanku yang terseok-seok dipinggir bantaran sungai...!!!
Anak-anaku yang yatim tercecer entah dibumi negeri ini...!
Paman dan bibiku yang dibayangi ketakutan atas penggusuran daganganmu ....!!!!
Kakeku dan neneku yang terganggu mimpi indahmu oleh para pendosa ini..!!!
Dengan bahasa apa lagi sehingga para pendosa ini mampu mendengar sebuah nasehat dari suara suci yang secara turun temurun di sakralkan para nenek moyang kita ini.....
Bahasa tuhanpun bebal ditelinga mereka ...
Bangsa yang kaya inipun tidak sanggup menjamin neneku dan kakeku dari harapan mimpi tenangnya di usia yang senja ini meskipun hanya sehari.
Bangsa yang gemah ripah loh jinawi ini harus terus menghardik anak-anak yatimku yang tercerai berai atas ratapan rasa lapar mereka.
Aparat-aparat yang tegap dan kuat itu mengusir keponakanku yang terseok-seok dibantaran sungai penuh sampah itu atas tuduhan penyebab banjir dan merusak pemandangan para kapitalis juragan mereka.
Pamanku dan bibiku terus berlari dari bayangan penggusuran gerobak kecilnya. ratapan atas usaha bertahan hidup untuk hari ini sajapun terus berlomba antara kelaparan dan ketakutan.
Negeri yang katanya ramah inipun sangat sulit menerima dan mendengar ratapan anak-anak bangsa yang tidak pernah beruntung dalam segala bentuk previlege yang biasa berputar di seputar senayan dan sudirman semata. tingginya gedung-gedung dan kokohnya pagar itu sama tingginya jarak antara kesenjangan ini.
Haruskah bangsa yang terkenal kaya inipun terancam kebangkrutan identitas atas ketidakpedulian para pendosa atas ratapan anak negeri ini.
ya tuhan kami,...
engkau yang menciptakan kami...
engkau yang menjanjikan kepada kami atas negeri ini....
engkau pula yang menjaminkan kelangsungan dan kepunahan identitas kami
ya tuhan kami,....
ternyata kemerdekaan itu masih membingungkan bagi kami atas negeri terjanji ini...
kemerdekaan itu ternyata engkau berikan para pendosa itu...
ya tuhan kami...
anak-anak yatimku
keponakanku
paman dan bibiku
kakek neneku
menuntut penjelasan atas semua kesenjangan ini...haruskah bangsa ini direkonstruksi kembali....